Gembala [4]

Selepas shalat maghrib, mereka sudah duduk rapi dan lengkap dengan pakaian sarung, peci, dan al-quran baghdadiyah (Metode mengaji dengan di eja perhuruf, tapi saat ini yang lebih familiar adalah metode Iqra yang simpel dan mudah).

Mereka menunggu sang guru ngaji selesai menunaikan shalat Maghrib. Guru ngaji yang mereka tunggu-tunggu tak lain ialah ibu mereka sendiri. Waktu-waktu menegangkan akan segera dimulai.

Dengan bantuan penerangan seadanya, mereka mengaji. Waktu itu masih menggunakan lampu dari minyak tanah. Meski pencahayaan tidak seterang seperti saat ini, bentuk dan huruf hijaiyah tampak begitu jelas terlihat, bahkan hingga saat ini masih terekam dengan sangat kuat, melekat kuat bagaikan tulang dan daging yang menyatu.

Lampu minyak yang terbuat dari botol bekas merupakan benda yang begitu berjasa. Karena menggunakan lilitan kain sebagai sumber cahaya maka tak ada istilah mati lampu dan akhirnya libur ngaji.

Paling ke tiup angin atau tersenggol, sehingga lampu padam. Setelah dipercikan api, semuanya kembali normal. Libur mengaji bagi mereka tat kala ibu tertidur atau kecapekkan setelah seharian bekerja di sawah.

Mereka wajib ngaji, dan tidak boleh tidak. Tidak ada dispensasi sedikitpun. Sehingga kalau tadi sore tidak menggembala kambing, persidangannya ketika mengaji. Apalagi kalau ngajinya salah terus dan gak lancar. Ya sudah, jadi sasaran empuk untuk disalahkan.

Semuanya dimulai dengan rasa tidak enak dan penuh perjuangan. Tetapi pepatah ini past benar adanya “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Besakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian…

Ditemani lampu minyak dan keheningan malam. 
Lembur Pancur, 1995

Bersambung... 

Baca Juga Artikel Lainnya:

Gembala [3]

Mereka biasa berangkat menggembala kambing pukul 13.00 dan pulang ke rumah pukul 17.00. Kedua bocah itu juga harus rela bersahabat dengan keringat, trik panas matahari, bahkan hujan dan petir. Bagi kedua bocah itu sudah menjadi ‘makanan’ sehari-hari.

Mencuci baju sendiri sudah ditanamkan ketika sekolah dasar. Kebiasaan ini sudah mendarah daging dan secara tidak langsung mendidik untuk mandiri. Tugas inidividu ditanggung sendiri-sendiri, itulah yang orang tua tanamkan dan ajarkan kepada kakak, adik dan termasuk ke mereka juga.

Di saat orang lain sudah mandi dan wangi, mereka masih berada di hutan mengurus kambing-kambing peliharaannya.

Di saat orang lain bisa bermain sepulang sekolah, kedua bocah itu tak punya pilihan selain bermain dengan kambing-kambingnya.

Salah satu cara supaya bisa main, ya harus nekat. Tetapi resikonya harus tanggung sendiri. Siap-siap saja, pulang ke rumah kena marah dan gak dapat jatah makan.

“Pokoknya nyesel banget kalau ngelakuin hal senekat itu, yang ada nanti malah ngerasa bersalah… “.


Bersambung...

Baca Juga Artikel Lainnya:

Gembala (2)

Siang itu begitu terik, jalan aspal itu terasa panas meski beralaskan sepatu. Apa lagi tanpa alas kaki. Tampak dari kejauhan dua bocah yang baru pulang sekolah dasar (SD), berlarian. Mereka bergegas untuk pulang ke rumah. Dua anak kembar itu ternyata sudah dinanti tugas besar dari orang tuanya; menggembala kambing.

Suara kambing yang mengembik sudah terdengar jelas, dan itu menandakan bahwa mereka sudah sangat lapar untuk mengisi perutnya. Mereka bergegas mengganti pakaian sekolah dan langsung mengeluarkannya dari kandang.

Pada saat pintu itu dibuka, satu bocah sudah berjaga di salah satu kebun milik orang lain, supaya kambing-kambing itu tidak masuk ke kebun yang ada tanaman singkong dan lain sebagainya. Sebab kalau masuk ke kebun mereka bisa kena marah Si pemilik kebun.

Padahal, kedua bocah itu belum sempat makan siang. Sarapan pagi pun tidak. Tapi bagi mereka, hal ini sudah biasa. Toh mereka akan mengganjal perutnya dengan buah-buahan yang ada di hutan.

Kambing yang mereka punya, bukan jenis kambing yang menyukai rerumputan, dan tidak terlalu suka dengan rerumputan. Tetapi lebih menyukai dedaunan dan pucuk daun yang muda. Sehingga untuk menggembala harus ke hutan.

Dari sana mereka terbiasa menggembala kambing ke hutan, bahkan ke kuburan. Kuburan di perkampungan tentu berbeda dengan di kota. Di kampung begitu seram dan banyak pohon besar-besar. Sehingga kalau menggembala ke kuburan, siang hari pun terasa seperti sudah memasuki waktu maghrib

Bersambung... 




Baca Juga Artikel Lainnya:

Gembala (1)

Suasana pesawahan yang sejuk dan pemandangan pegunungan yang begitu indah kala sore hari menjadi pemikat siapa saja yang mengunjunginya. Pedesaan, itulah kehidupan di mana kami dibesarkan dan kami dididik.

Suasana kedamaian dan ketentraman begitu terasa. Ditambah lagi dengan udaranya yang sejuk, membuat siapapun merasa nyaman ketika tinggal di desa.

Gotong royong dan saling membantu begitu tampak dan masih menjadi budaya di desa, sehingga hubungan kekeluargaan dengan tetangga begitu kuat. Ditambah lagi kegiatan orang-orang desa lebih banyak di sawah dan di kebun.

Penghidupan orang desa dari cocok tanam, meski hasilnya tidak bisa menghasilkan uang, asal bisa menghidupi dan mengisi perut, rasanya sudah lebih dari cukup. Bagi orang desa, kekayaan harta bukan lah segalanya, tetapi kekayaan hati dan kebersamaan itulah kebahagiaan yang sesungguhnya.

Cara mendidik orang desa biasanya keras, tapi itu bukan semata-mata karena tidak sayang dan cinta. Tetapi itulah bukti rasa sayang dan cinta yang sesungguhnya. Orang tua mereka, tidak ingin anak-anaknya kelak menjadi orang bodoh, terutama tidak bisa mengaji. Dari didikan yang “keras” itulah (kami) anak desa lahir dan menjadi seperti sekarang.

Aku adalah akumulasi dari masa lalu….” Demikian kalimat yang menjadi kunci dalam bukunya Chairul Tanjung, Aku Anak Singkong.

Bersambung....

Baca Juga Artikel Lainnya:

Awal Permulaan

Suasana pesawahan yang sejuk dan pemandangan pegunungan yang begitu indah kala sore hari menjadi pemikat siapa saja yang mengunjunginya. Pedesaan, itulah kehidupan dimana kami dibesarkan dan kami dididik.

Semilir angin yang bertiup sepoi-sepoi menggoyangkan daun pepohonan dan sejenak membawa ruh dan jiwaku terbang ke langit yang biru kelabu. Suara gemercik air yang mengalir mengundang ketenangan dan ketentaraman jiwa. Ikan-ikan kecil di sawah, saling berkerjaran, entah apa yang sedang ikan itu perbuat?

Penghidupan kami dari alam dan tanaman, meski hasilnya tidak bisa dijual, tetapi sudah cukup untuk menghidupi dan mengisi perut kami. Bagi kami kekayaan harta bukan lah segalanya, tetapi kekayaan hati dan kebersamaan itulah kebahagiaan yang sesungguhnya.

Didikan orang tua kami keras, tapi itu bukan karena tidak sayang dan cinta. Tetapi itulah rasa sayang dan cinta yang sesungguhnya. Orang tua  kami, tidak ingin anak-anaknya kelak bodoh, tidak bisa mengaji, tidak mengerti sopan santun, taat dan patuh kepada orang tua. Dari didikan yang “keras” itulah kami lahir dan menjadi seperti sekarang.

“aku adalah akumulasi dari masa lalu….” Demikian kalimat yang menjadi kunci dalam bukunya Chairul Tanjung, Aku Anak Singkong.




Baca Juga Artikel Lainnya:

Posting Pertama

Bismillahirrahmanirahim..

Semoga blog ini bisa bermanfaat dan memberikan dampak yang baik bagi para pembaca di manapun berada.

Serta mampu memberikan pencerahan untuk mereka yang sedang mencari cahaya kehidupan.

Amiin








--o0o--


Baca Juga Artikel Lainnya: