Siang itu begitu terik, jalan aspal itu terasa panas meski beralaskan sepatu. Apa lagi tanpa alas kaki. Tampak dari kejauhan dua bocah yang baru pulang sekolah dasar (SD), berlarian. Mereka bergegas untuk pulang ke rumah. Dua anak kembar itu ternyata sudah dinanti tugas besar dari orang tuanya; menggembala kambing.
Suara kambing yang mengembik sudah terdengar jelas, dan itu menandakan bahwa mereka sudah sangat lapar untuk mengisi perutnya. Mereka bergegas mengganti pakaian sekolah dan langsung mengeluarkannya dari kandang.
Pada saat pintu itu dibuka, satu bocah sudah berjaga di salah satu kebun milik orang lain, supaya kambing-kambing itu tidak masuk ke kebun yang ada tanaman singkong dan lain sebagainya. Sebab kalau masuk ke kebun mereka bisa kena marah Si pemilik kebun.
Padahal, kedua bocah itu belum sempat makan siang. Sarapan pagi pun tidak. Tapi bagi mereka, hal ini sudah biasa. Toh mereka akan mengganjal perutnya dengan buah-buahan yang ada di hutan.
Kambing yang mereka punya, bukan jenis kambing yang menyukai rerumputan, dan tidak terlalu suka dengan rerumputan. Tetapi lebih menyukai dedaunan dan pucuk daun yang muda. Sehingga untuk menggembala harus ke hutan.
Dari sana mereka terbiasa menggembala kambing ke hutan, bahkan ke kuburan. Kuburan di perkampungan tentu berbeda dengan di kota. Di kampung begitu seram dan banyak pohon besar-besar. Sehingga kalau menggembala ke kuburan, siang hari pun terasa seperti sudah memasuki waktu maghrib
Bersambung...
0 Respon Untuk "Gembala (2)"
Posting Komentar