Suasana pesawahan yang sejuk dan pemandangan pegunungan yang begitu indah kala sore hari menjadi pemikat siapa saja yang mengunjunginya. Pedesaan, itulah kehidupan di mana kami dibesarkan dan kami dididik.
Suasana kedamaian dan ketentraman begitu terasa. Ditambah lagi dengan udaranya yang sejuk, membuat siapapun merasa nyaman ketika tinggal di desa.
Gotong royong dan saling membantu begitu tampak dan masih menjadi budaya di desa, sehingga hubungan kekeluargaan dengan tetangga begitu kuat. Ditambah lagi kegiatan orang-orang desa lebih banyak di sawah dan di kebun.
Penghidupan orang desa dari cocok tanam, meski hasilnya tidak bisa menghasilkan uang, asal bisa menghidupi dan mengisi perut, rasanya sudah lebih dari cukup. Bagi orang desa, kekayaan harta bukan lah segalanya, tetapi kekayaan hati dan kebersamaan itulah kebahagiaan yang sesungguhnya.
Cara mendidik orang desa biasanya keras, tapi itu bukan semata-mata karena tidak sayang dan cinta. Tetapi itulah bukti rasa sayang dan cinta yang sesungguhnya. Orang tua mereka, tidak ingin anak-anaknya kelak menjadi orang bodoh, terutama tidak bisa mengaji. Dari didikan yang “keras” itulah (kami) anak desa lahir dan menjadi seperti sekarang.
“Aku adalah akumulasi dari masa lalu….” Demikian kalimat yang menjadi kunci dalam bukunya Chairul Tanjung, Aku Anak Singkong.
Bersambung....
0 Respon Untuk "Gembala (1)"
Posting Komentar