Awal Permulaan

Suasana pesawahan yang sejuk dan pemandangan pegunungan yang begitu indah kala sore hari menjadi pemikat siapa saja yang mengunjunginya. Pedesaan, itulah kehidupan dimana kami dibesarkan dan kami dididik.

Semilir angin yang bertiup sepoi-sepoi menggoyangkan daun pepohonan dan sejenak membawa ruh dan jiwaku terbang ke langit yang biru kelabu. Suara gemercik air yang mengalir mengundang ketenangan dan ketentaraman jiwa. Ikan-ikan kecil di sawah, saling berkerjaran, entah apa yang sedang ikan itu perbuat?

Penghidupan kami dari alam dan tanaman, meski hasilnya tidak bisa dijual, tetapi sudah cukup untuk menghidupi dan mengisi perut kami. Bagi kami kekayaan harta bukan lah segalanya, tetapi kekayaan hati dan kebersamaan itulah kebahagiaan yang sesungguhnya.

Didikan orang tua kami keras, tapi itu bukan karena tidak sayang dan cinta. Tetapi itulah rasa sayang dan cinta yang sesungguhnya. Orang tua  kami, tidak ingin anak-anaknya kelak bodoh, tidak bisa mengaji, tidak mengerti sopan santun, taat dan patuh kepada orang tua. Dari didikan yang “keras” itulah kami lahir dan menjadi seperti sekarang.

“aku adalah akumulasi dari masa lalu….” Demikian kalimat yang menjadi kunci dalam bukunya Chairul Tanjung, Aku Anak Singkong.




Baca Juga Artikel Lainnya:

0 Respon Untuk "Awal Permulaan"

Posting Komentar